Myntra coupons

Flipkart coupon

abof coupons

globalnin

Home / INFO / Biaya Visa Melambung, Inilah Solusi Travel Umrah

Biaya Visa Melambung, Inilah Solusi Travel Umrah

Dokumen perjalanan ibadah umrah ke Arab Saudi.

 

JAKARTA (ManasikNews) – Kaget dan mempertanyakan pemberlakuan yang waktunya mendadak sekali. Begitulah reaksi pertama pelaku penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) di Tanah Air, menanggapi beleid kenaikan drastis biaya visa umrah yang diberlakukan pemerintah Arab Saudi, persis di awal musim umrah 1441 Hijriah (2019/2020), tepatnya per 9 September 2019.

Inilah kebijakan terbaru Kerajaan Arab Saudi terkait komponen syarat perjalanan ibadah umrah, yang menyertai aturan penghapusan biaya visa progresif — biaya yang dibebankan kepada setiap jamaah umrah yang berangkat lagi dengan dokumen paspor yang sama.

Kenaikan biaya visa umrah yang kini jadi sebesar SAR 498,19 (sekitar Rp 1,8 juta) didorong pengenaan pos baru sekaligus komponen terbesar berupa goverment fee senilai SAR 300 – sebelumnya biaya visa umrah total “hanya” US$ 25 hingga US$ 35 (berkisar Rp 362,5 ribu – Rp 507,5 ribu/tergantung kelas penginapan-hotel dalam paket umrah) – begitu mendadak, ujuk-ujuk, tanpa disertai sinyal sebelumnya, apalagi ada sosialisasi dari pemerintah Arab Saudi.

Tak pelak lagi, hal itulah yang membuat kelabakan kalangan PPIU, terutama travel umrah yang belum mengurus visa jamaah untuk keberangkatan periode tiga bulan ke depan (Oktober – Desember 2019), sementara pihak jamaah sudah melunasi seluruh biaya keberangkatan umrah.

Owner/CEO Attayibah Almultazam Group, Rizky Sembada ME, menilai kebijakan kenaikan biaya visa umrah diberlakukan mendadak sekali, dan itu sangat mengagetkan kalangan penyelenggara umrah di Tanah Air. Terlebih lagi tidak ada sosialisasi sebelumnya dari pemerintah Saudi.

“Jelas kami dibuat kerepotan. Pasalnya, banyak jamaah yang sudah lunas mendaftar umrah dan siap berangkat pada periode Oktober hingga Desember 2019, sementara dalam biaya pendaftaran belum dimasukkan harga visa baru pasca-kenaikan biaya,” ujarnya kepada ManasikNews, Rabu (11/9/2019).

Owner/CEO Attayibah Almultazam Group, Rizky Sembada ME.

 

Rizky yang travelnya anggota asosiasi haji-umrah AMPHURI ini menyesalkan keputusan terbaru Saudi itu, lantaran waktunya (timing) dinilai salah atau tidak pas. Bahkan, keputusan ini dikeluarkan sehari pasca mukernas AMPHURI 2019 di Solo, Jawa Tengah. “Andai kebijakan ini diumumkan jauh-jauh hari, misal setelah Ramadhan lalu, tentu kenaikan biaya visa bisa diantisipasi dengan memasukkan ke biaya baru umrah, sehingga pelaku travel dan jamaah tidak akan shock seperti sekarang,” ungkapnya.

Direktur Utama Barokah Madinah Travel, KH Zulkifli Ahmad Jundim Lc, ketika dimintai komentarnya justru menunjukkan sikap rileks dan tersenyum. Diakui, PPIU anggota asosiasi Sapuhi yang mengusung prinsip marketing Zona Aman dan Nyaman ini tidak heran, lantaran sudah terprediksikan bahwa aturan umrah dan haji oleh pemerintah Saudi kerap berubah secara drastis.

“Namun, secara umum kami turut prihatin dengan terbitnya ketentuan baru umrah dari pemerintah Saudi. Ini pasti akan berdampak, termasuk memukul kalangan travel umrah yang baru lahir yang mereka sedang gencar-gencarnya menawarkan paket perjalanan umrah,” kata Kiai Ahmad Jundim ketika ditemui ManasikNews di pondok pesantren Tahfhizul Qu’ran Barokah Madinah, di kawasan Wisata Lubuk Bonta, Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Direktur Utama Barokah Madinah Travel, KH Zulkifli Ahmad Jundim Lc.

 

Hadirkan Solusi Terbaik

Keputusan sudah terjadi, dan pengelola PPIU tidak kuasa menolaknya. Bisa jadi juga itu keputusan Allah melalui pemerintah Arab Saudi. Sekarang bukan saat berbedat atau mencari faktor salah dan benar, tapi sebaiknya menghadirkan solusi terbaik, buat PPIU dan jamaah umrah.

Menurut Rizky Sembada, sebagai solusi, pertama pihaknya akan memberi pemahaman kepada jamaah dan terus memotivasi mereka untuk menguatkan tekad dan niat tetap berangkat ke Baitullah. “Bisa jadi pula itu bentuk ujian Allah kepada kita yang hendak berangkat umrah, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Karenanya kita harus  bersabar, dan Allah akan bersama dengan orang-orang yang sabar,” ujanya.

Selanjutnya, ungkap dia, pihaknya akan memberi kompensasi kepada jamaah, yaitu membebaskan sebagian biaya dalam sistem e-Visa (umrah) atau tidak dibebankan kepada jamaah, namun akan ditanggung oleh travel.

Rizky menyebutkan, khusus Attayibah Almultazam Group, akan mengajak para mitra (mencakup sekitar 28 kantor perwakilan di seluruh Indonesia) yang sudah bekerjasama penjualan dengan sistem profit sharing, untuk bersama berkontribusi meringankan beban jamaah. Tujuannya, agar semua jamaah tetap bisa berangkat umrah.

Berikutnya, Attayibah Almultazam akan kembali meninjau  paket-paket umrah yang hendak ditawarkan pada periode umrah mendatang. “Selain itu, kami bersama asosiasi akan mencoba bernegoisasi dengan pemerintah Arab Saudi agar meninjau kembali kebijakan baru visa umrah,” paparnya.

Lain pula dengan upaya Barokah Madinah Travel. Menurut Kiai Ahmad Jundim, pihaknya jauh-jauh hari sudah mengantisipasi terhadap lanskap bisnis perjalanan umrah, dengan memberi training secara intensif kepada mitra perwakilan Barokah Madinah di seluruh Indonesia. Yaitu, perlunya memahami Enam Poin (six point) menghitung biaya umrah zona aman dan nyaman. “Kami sudah menyampaikan persoalan itu tiga tahun lalu dalam sebuah seminar di Jakarta, dengan topik Travel Ekonomi Langit,” paparnya.

Selanjutnya, ungkap Kiai Ahmad Jundim, Barokah Madinah Travel siap mensosialisasikan kebijakan biaya baru visa umrah kepada jamaah dan seluruh perwakilan travel ini di seluruh indonesia, khususnya adanya tambahan SAR 300 (goverment fee) dalam komposisi biaya visa umrah.

Dilematis

Menghadapi kebijakan perumrahan oleh pemerintah Arab Saudi yang sering berubah sehingga situasi penyelenggaraan umrah di Indonesia turut berubah pula, menurut Kiai Ahmad Jundim itu tidak terlalu mempengaruhi Barokah Madinah Travel. Sebab, pihaknya sudah mengkalkulasi terhadap seluruh biaya umrah berikut risiko bisnis yang mengiringi.

“Paling fadilahnya, besaran marjin yang diharapkan tidak sesuai lagi dengan rencana awal. Itulah masalahnya, bahwa kita punya rencana, dan Allah pun punya rencana tersendiri. Di sini yang berlaku adalah rencana Allah. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha. Semoga  permasalahan ini segera bisa diatasi oleh kalangan pelaku travel umrah,” ujar Kiai Ahmad Jundim.

Rizky Sembada menyatakan, kebijakan kenaikan biaya visa umrah adalah di luar kewenangan pihak penyelenggara perjalanan umrah. Justru yang harus diantisipasi adalah dampaknya, karena ada tambahan biaya umrah (konsekuensi harga visa naik) yang itu akan menjadi beban jamaah.

“Situasinya akan sangat dilematis. Jika jamaah tetap ingin berangkat berarti harus menyiapkan biaya tambahan. Sebaliknya, jika mereka mundur atau tidak jadi berangkat, mereka akan rugi karena pengembalian biaya pendaftaran di muka akan dipotong. Itulah dilema terbesarnya,” kata Rizky.  (wyn)

 

 

 

 

About admin

Check Also

Diskon Hingga 50% di Global Sales Promo Qatar Airways Periode Promo 9 - 15 September 2019

QATAR AIRWAYS, maskapai penerbangan terbaik dunia, memberikan potongan harga (diskon) tiket hingga 50% dari harga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *