Myntra coupons

Flipkart coupon

abof coupons

globalnin

Home / MOZAIK / Kafilah Haji Melintas Zaman

Kafilah Haji Melintas Zaman

ZAMAN boleh berubah, tapi kafilah haji tetap dimaknai sebagai rombongan jamaah haji pelintas batas wilayah dan negara menuju Baitullah. Dulu kafilah haji dalam rombongan besar naik unta, era setelahnya berganti kapal layar, hingga sekarang menggunakan transportasi udara modern. Di masing-masing zaman kafilah haji punya tantangan tersendiri.

Usai melaksanakan haji wada (10 Hijriah/632 M) dengan sekitar 90.000 jamaah, Nabi  Muhammad SAW beringsut meninggalkan Mekah untuk kembali ke Madinah. Nabi pergi bersama para sahabat dan umat dalam jumlah besar. Inilah kafilah haji terbesar di zaman Rasulullah. Rombongan haji Nabi bergerak ke arah utara, hingga tiba di dataran bernama Khum yang belum jauh dari Mekah. Kafilah  berhenti di tepian sebuah perigi atau genangan air (ghadir), di sinilah Nabi menerima wahyu baru.

“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu), berarti kamu tidak menyampaikan amanah-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS Al Maidah: 67)

Nabi memerintahkan kafilah haji untuk berkumpul di Ghadir Khum, lalu memproklamirkan Ali Bin Abi Thalib sebagai pemimpin pengganti dirinya. Betapa berartinya hari itu, sampai-sampai Nabi menangguhkan segala urusan guna berkonsentrasi pada “penobatan” Ali. Setelah itu turunlah ayat lanjutan (QS Al Maidah: 3), sebagai isyarat bahwa Allah telah meridhoi keputusan Nabi. Maklumat Ali sebagai penerus beliau, merupakan penyempurna sekaligus puncak pelaksanaan tugas Rasulullah sepanjang hayatnya. Dengan begitu, misi Nabi sebagai utusan Allah pun berakhir.

Kafilah haji di zaman Rasulullah dan era-era setelahnya paling tidak masih punya satu kemiripan. Yakni, terdiri ribuan jamaah dan naik unta, yang ketika itu dianggap hewan kendaraan paling efektif.  Ketika berangkat ke Mekah dari Madinah, usai shalat Jumat tanggal 25 Dzulqadah 10 Hijriah (21 Februari 632), Rasulullah juga mengendarai unta, namanya Al-Qashwa’, diikuti rombongan sekitar 30.000 jamaah.

Semenanjung Arab di barat daya Asia yang merupakan semenanjung terbesar di peta dunia dengan luas 1,745 juta km2 dan jumlah penduduk 14 juta jiwa, tidak termasuk kawasan tiada berpenghuni (al Rab al Khali) seluas 425.000 km2 versi survei perusahaan migas Aramco. Semenanjung Arab terdiri Arab Saudi (luas 1,014 juta km2 dan populasi 7 juta jiwa) yang merupakan negara terbesar, selebihnya adalah  Yaman (dulu Aden), Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Oman (dulu Musqat), dan Bahrain.

Semenanjung Arab tidak memiliki satu pun sungai besar yang mengalir sepanjang dua musim  dan bermuara ke laut. Tidak ada pula aliran sungai yang bisa dilalui kapal. Semenanjung ini hanya punya wadi (danau). Nah, di sinilah wadi memainkan peran tidak saja sebagai penampung limpahan curah hujan tinggi, tapi juga menjadi penentu arah rute perjalanan kafilah haji.

Sejak kelahiran Islam, para jamaah haji telah membentuk jaringan penghubung penting antara Arab Saudi dengan dunia luar. Jalur darat terpenting adalah Mesopotamia, melalui Buraidah di wilayah tengah Saudi, menyusuri wadi Al Rummah. Sedangkan dari Suriah memotong kawasan wadi al Sirhan dan menyusuri pesisir Laut Merah.

Di abad pertengahan, kafilah haji dari Senegal, Liberia, dan Nigeria harus meniti perjalanan yang panjang melintasi Afrika Tengah. Di tengah perjalanan, jumlah jamaah terus bertambah banyak  berasal dari negeri-negeri yang dilalui. Mereka bergerak ke arah timur menuju Tanah Suci. Di antara mereka ada yang nyeker alias berjalan kaki dan menunggang kuda. Dalam rombongan tidak banyak perempuan dan anak-anak ikut serta mengingat perjalanan yang amat jauh dan bermedan berat.

Sebagai bekal perjalanan, di antara mereka ada yang berdagang, mengemis, dan bekerja sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tanah Suci. Tidak sedikit calon haji yang mati dalam perjalanan, dan kematian itu dianggap mati syahid. Adapun jamaah yang selamat akhirnya tiba di Laut Merah lalu menyeberang ke Arab Saudi naik kapal laut.

About admin

Check Also

LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK.

IBADAH haji merupakan rukun Islam (al-Arkan al-Islam) kelima. Setiap Muslim wajib menunaikannya sekali seumur hidup. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *