Myntra coupons

Flipkart coupon

abof coupons

globalnin

Home / MOZAIK / LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK.

LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK.

IBADAH haji merupakan rukun Islam (al-Arkan al-Islam) kelima. Setiap Muslim wajib menunaikannya sekali seumur hidup. Itu pun terbatas kepada mereka yang memiliki kemampuan (istitha’ah). Banyak Muslim memiliki pandangan bahwa jika seseorang telah menunaikan ibadah haji, maka ia telah menyempurnakan agamanya. Ibadah haji berlangsung dalam siklus sekali setahun dan jatuh pada bulan-bulan Sawwal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah ([Musim] haji adalah bulan-bulan yang dimaklumi [QS 2: 197]). Pada bulan-bulan lain, Muslim hanya dapat melaksanakan ibadah umrah yang seringkali disebut dengan istilah “haji kecil”.

Ibadah haji memiliki sangat kaya makna dan dimensi. Di dalamnya terdapat unsur budaya festival yang luar biasa besar. Muslim dari seluruh dunia, dari beragam etnis, bangsa, dan negara—bahkan dari beragam madzhab—bergerak menuju Ka’bah, pusat peribadatan Islam, dengan pakaian yang sama, niat yang sama, dan ucapan yang sama—Labbaik Allahumma Labbaik. Sampai hari ini ibadah haji, mengutip para pengamat, merupakan “the largest single gathering in one place at one time for one purpose on earth” (Micheal Wolfe, 1997).

Selanjutnya, bagi yang melaksanakannya, ibadah haji dapat menjadi anak tangga mobilitas sosial. Seperti tampak di masyarakat Indonesia, “gelar haji” merupakan kehormatan tersendiri dan menyimbolkan sebuah kelas sosial tertentu. Penyandangnya tidak hanya dilihat memiliki kemampuan ekonomi, terkadang bahkan dilihat sebagai ‘alim, atau memiliki ilmu keislaman. Ibadah haji bisa menjadi “modal agama” (religious capital) di mana para penyandangnya memperoleh pengakuan sosial dari komunitasnya (M. Amin Akkas, 2005).

Di dalam sejarah Islam Indonesia, haji ternyata membawa implikasi perubahan penting. Para haji telah ikut memperkuat terbentuknya “kaum santri” di Indonesia. Para haji di masa lalu, yang disela-sela perjalanan panjangnya memiliki kesempatan untuk belajar agama dan berinteraksi dengan para ulama, setibanya di tanah air menjadi kaum santri. Merekalah para penggagas ormas Islam (misalnya Muhammadiyah dan NU), mendirikan lembaga-lembaga pendidikan Islam, dan sebagainya. Pendeknya, mengutip seorang sarjana, mereka adalah “para arsitek” Islam Indonesia modern.

Makna Spritual

Dalam Islam, setiap ibadah sebenarnya merefleksikan penghambaan terhadap Sang Pencipta. Penghambaan yang tulus dalam ibadah akan memberikan pengaruh positif terhadap peran utama manusia sebagai “wakil Allah di muka bumi” (khalifah Allah fi al-ardl). Dengan menghamba, yang di dalamnya terkandung makna kedekatan dan jarak sekaligus, kaum Muslim akan memenuhi dirinya dengan sifat-sifat utama ketuhanan—yang tertulis dalam asma al-husna—sehingga ia tidak hanya manusia beriman, tetapi juga manusia yang merealisasikan akhlak yang tercermin dalam sifat-sifat ketuhanan. Inilah yang tersirat dalam dalam ungkapan takhallaqu bi akhlaq Allah (berperilakulah sesuai dengan akhaq Allah SWT).

Haji pada hakekatnya merupakan perjalanan menuju Allah (the road to Allah). Hal ini tercermin dalam al-Qur’an (QS. 22: 27) “ … mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh … “. Jadi merupakan bentuk perjalanan suci (secred journey) yang bisa muncul sebagai tahapan perjalanan manusia yang merupakan momentum terjadinya perubahan. Seseorang yang pulang haji, terkadang memperoleh kesadaran baru tentang dirinya, semakin kuat identitas agamanya, berpenampilan baru, semakin meningkat integrasi dan solidaritasnya sebagai ummah (Muslim), dan sebagainya.

Ibadah haji jelas merupakan perjalanan suci menuju tempat-tempat yang disucikan untuk mendapatkan cahaya Ilahi. Oleh karena itu, perjalanan ibadah haji harus dilakukan dengan berbagai persiapan yang disebut dengan istitha’ah, terutama secara finansial. Di samping persiapan-persiapan yang bersifat spiritual dengan bertobat dan meningkatkan amal ibadah; juga persiapan fisik dengan latihan-latihan fisik agar semua ritual ibadah haji dapat dilakukan dengan lancar. Di sinilah kemudian, manasik haji menjadi penting bagi calon jamaah haji.

Perjalanan, pengembaraan, dan menarik diri dari keramaian pada waktu-waktu tertentu, merupakan tradisi kaum shalih dalam agama-agama masa lampau. Dikisahkan bahwa para rahib (pendeta) pada zaman dahulu seringkali mengasingkan diri dari masyarakatnya, melakukan perjalanan secara berpindah-pindah, dan meninggalkan segala kesenangan duniawi. Itu semua dilakukan dengan tujuan agar supaya memperoleh pahala akhirat. Allah Swt memuji perilaku demikian dalam firman-Nya, “ … Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri (QS 5: 82).

Dalam Islam, Allah Swt menggantikan bentuk pengembaraan seperti itu dengan perjalanan haji. Dalam hal ini dikisahkan bahwa para rahib penganut agama-agama terdahulu pernah bertanya kepada Nabi Saw ikhwal kerahiban dan pengembaraan dan beliau menjawab, “Allah telah menggantikannya bagi kami dengan berijtihad dan bertakbir di setiap tempat yang tinggi”. Abu Dawud meriwayatkan dari hadis Abu Umamah bahwa seseorang pernah meminta kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, izinkanlah aku untuk melakukan pengembaraan.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya pengembaraan ummatku adalah berjihad di jalan Allah, dan haji adalah jihad di jalan Allah” (Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, 2006).

Detail ibadah haji mustahil dijelaskan maknanya secara terperinci, termasuk oleh kalangan yang rasional sekalipun. Terdapat beberapa bentuk perintah dalam haji yang tidak dapat dicerna secara rasional murni. Secara kasat mata terdapat ritual dalam ibadah haji yang secara lahiriyah menyengsarakan diri, misalnya ritual melontar jamarat, berjalan “mondar-mandir” antara Safa dan Marwa, membiarkan tubuh terbuka dalam udara panas dan dingin, bermalam di Muzdalifah tanpa atap di bawah langit terbuka, dan wukuf di Arafah di bawah terik matahari. Semua bentuk ritual tersebut adalah menyengsarakan secara kasat mata.

Ritual-ritual tersebut akan sangat berbeda—misalnya—apabila dibandingkan dengan ritual tentang zakat. Dalam zakat terdapat unsur rasional sehingga mudah dijelaskan dari perspektif keadilan sosial maupun filsafat tentang filantropi (kedermawanan). Demikian juga halnya dengan ritual puasa yang dapat dijelasakan secara rasional sebagai bentuk pembelajaran menahan dan menundukkan syahwat. Akan tetapi, seorang Muslim—yang secara harfiah Islam juga berarti kepasrahan dan ketundukan mutlak—akan menunaikan ritual-ritual haji tersebut dengan bersemangat dan tanpa bertanya-tanya. Aspek penghambaan dan ketundukan mutlak inilah yang terkandung dalam seluruh ritual haji. Kaum beriman yang menghayati makna ini akan berimplikasi kepada peningkatan ketaqwaan—setelah menunaikan ibadah haji.

Dalam ibadah haji juga terdapat nilai kemanusiaan universal. Dalam haji setiap Muslim adalah sama dan sederajat. Dalam ritual ihram atau “tidak mengenakan pakaian berjahit”, tidak dapat dibedakan lagi stratifikasi sosial masyarakat Muslim seluruh dunia. Semua tunduk dan patuh kepada perintah Allah SWT dalam pakaian yang sama. Manusia adalah sama di hadapan Allah; dan pakaian ihram tidak hanya menyimbolkan kesederhanaan dan sikap rendah hati, tetapi juga menyampaikan pesan tentang kemanusiaan universal. Tidak boleh ada perbedaan hakiki antarsesama manusia—terutama yang menyangkut “nilai manusia sebagai manusia”.

Nilai-nilai egaliter, sebuah pandangan yang meletakkan manusia dalam kesamaan derajat, yang merupakan doktrin utama dalam Islam, tercermin jelas dalam upacara pelaksanaan ibadah haji. Seluruh jamaah haji mengenakan pakaian putih dan menanggalkan status sosial, ekonomi, dan politik. Semuanya bergerak dengan Ka’bah, rumah Allah, sebagai porosnya, dan keridlaan Allah sebagai tujuan utamanya. Doktrin egalitarianisme merupakan salah satu doktrin utama dalam Islam. Nabi Muhammad Saw selalu menekankan kesatuan antara tawhid dan egalitarianisme. Muslim yang beriman kepada Allah, mengandung arti bahwa ia menegasikan yang selain Allah. Dan di mata Allah, semua manusia adalah sama, lepas dari etnisitas, sosial-ekonomi, afiliasi politik, dan budaya. Hanya takwa yang akan mengantarkan manusia dekat kepada Allah.

Dalam ibadah haji, seorang Muslim memperoleh pekerti yang banyak, seperti akhlak yang terpuji dan etika kemanusiaan yang luhur yang tidak hanya dipelajari selama berhaji, tetapi juga telah dipraktikkannya. Selama berhaji, ia telah berpakaian sederhana sebagai simbol rendah hati dan ketundukan; ia telah belajar bersabar di tengah jutaan umat manusia sesama Muslim; ia telah memposisikan ibadah sebagai prioritas dalam hidupanya; dan masih banyak lagi pendidikan akhlak yang dapat dipetik dalam perjalanan ibadah haji. Sudah semestinya pendidikan akhlak ini menjadi salah satu renungan yang harus mendapatkan penekanan para jamaah haji.

Apakah pengertian haji mabrur kemudian? Seorang Muslim sebenarnya mengetahui bahwa hajinya tidak akan mabrur apabila ia masih melakukan perbuatan keji dan fasik—setelah berhaji. Ia tahu jika hajinya tidak mabrur, dosanya tidak akan diampuni, aibnya tidak akan ditutup, amalnya tidak akan diterima, dan dirinya tidak akan bersih dari dosa-dosa seperti saat ia dilahirkan oleh ibunya. Dengan demikian, dalam diri haji mabrur terkandung pengertian transformasi perilaku di mana seseorang menjadi lebih baik dan lebih berkualitas perilakunya dibandingkan sebelum berhaji.

Dari uraian di atas jelas bahwa ibadah haji merupakan bentuk ibadah eksklusif dalam pengertian ibadah yang istimewa dan penuh dimensi. Kaum Muslim sejagat sudah semestinya tidak hanya menjadikan ibadah haji sebagai ibadah di mana setiap Muslim memperoleh kesadaran diri dan perubahan perilaku yang sejalan dengan pesan-pesan Al Quran. Dengan demikian, ibadah haji akan memberikan sumbangan positif terhadap pembangunan SDM bangsa Indonesia.

About admin

Check Also

Kafilah Haji Melintas Zaman

ZAMAN boleh berubah, tapi kafilah haji tetap dimaknai sebagai rombongan jamaah haji pelintas batas wilayah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *