Myntra coupons

Flipkart coupon

abof coupons

globalnin

Home / ESENSI / Menjaga Kemabruran Haji, Mewujudkan Kesalehan Sosial

Menjaga Kemabruran Haji, Mewujudkan Kesalehan Sosial

 

BERANGKAT umrah atau haji bagi sekelompok kaum muslim menjadi sesuatu yang sangat diimpikan dan diinginkan, bahkan dipersiapkan dengan segala upaya. Bagi muslim di Indonesia yang berjarak cukup jauh dari tanah suci, pergi berhaji tentunya memiliki konsekuensi serius tentang biaya yang pasti tidak murah. Karenanya, berangkat ke tanah suci sering menjadi sesuatu yang mahal, rumit, dan hanya sebagian orang saja yang dapat melaksanakaanya.

Namun demikian, kita patut berbesar hati dengan negeri tercinta, karena begitu banyak warga muslim yang sangat ingin berangkat ke tanah suci, baik menunaikan haji maupun umrah. Makanya dari tahun ke tahun jumlah calon haji dan umrah terus bertambah. Itu paralel dengan banyaknya bermunculan travel penyelenggara haji dan umrah, dengan menawarkan aneka paket program umrah, termasuk umrah harga promo.

Jutaan umat muslim global setiap tahun menjadi Tamu Allah, baik berhaji maupun berumrah. Tentu saja hal itu membanggakan. Tapi, apa yang dibanggakan?

Apakah kita bangga dengan jumlahnya? Ya, tentu saja karena hal itu berdampak secara ekonomi dan bisnis. Apakah kita bangga dengan julukan Pak Haji atau Bu Haji? Atau mungkin yang sekarang sering kita jumpai bahwa kepergian ke tanah suci sudah seperti Piknik Spiritual. Spiritual Journey. Bila melihat jumlah muslim yang berangkat ke tanah suci, lalu mendengar hikmah yang didapat jamaah dari perjalanan suci di sana, bukankah   sepantasnya negeri ini sudah terbebas dari korupsi, kejahatan, dan kemaksiatan?.

Namun apa yang terjadi? Justru laku “saru” tersebut kian mengharu-biru. Seolah jadi  bayangan terbalik dari kondisi yang sebenarnya.   Maka apa yang dicari dan didapat dari perjalanan suci ke Baitullah? Tentunya pertanyaan itu harus dijawab dengan hati bening. Kejujuran. Apabila jumlah muslim yang sudah berhaji sebanding dengan perubahan yang terjadi di Tanah Air kita, maka itulah arti sebuah kemabruran dari perjalanan suci tersebut.

Saat ini tentunya bukan perkara yang sulit untuk mencari biro haji atau umrah yang memfasilitasi perjalanan menuju Tanah Suci. Beragam program umrah berikut fasilitasnya mereka tawarkan. Semuanya ditawarkan lewat berbagai cara dengan menonjolkan kelebihan fasilitas dan program yang ujung-ujungnya mempengaruhi harga jual.  Semakin mahal paket umrah semakin prestise. Akhirnya yang terjadi adalah perlombaan yang menyuburkan konsumerisme. Semakin prestise, semakin bergengsi dan terpandang.

Konsumerisme yang terbungkus dalam bentuk ibadah. Misalnya, berumrah di bulan Ramadhan, dimana banyak dipromosikan dengan ungkapan hal itu akan dibalas dengan pahala berlipat-lipat. Pertanyaan, apabila hal itu wajib, pastilah dicontohkan oleh Rasulullah dan tentunya Beliau akan pergi berumrah di bulan Ramadhan. Tetapi, justru pada bulan Ramadhan Nabi lebih banyak berinfaq. Beliau adalah sosok yang dermawan, dan ketika  Ramadhan tiba Beliau layaknya angin yang berembus kencang untuk berderma. Sekarang banyak masjid di negeri kita membuat brosur Ramadhan dengan memasukkan umrah itu sebagai amal ibadah Ramadhan. Padahal, umrah tidak ada kaitannya dengan Ramadhan.

Di luar bulan Ramadhan boleh seperti itu. Tapi memasukkan umrah sebagai amaliyah Ramadhan itu sudah punya tujuan lain. Inilah yang bergeser, bukan ibadahnya tapi mindset dalam beribadah. Bukankah keberangkatan ke Tanah Suci adalah sebuah ibadah atau ritual. Jika demikian adanya, maka yang perlu dibangun setelah itu adalah aktualisasi dari nilai ibadah tersebut. Seperti halnya shalat, yang mana mendirikan shalat bukan semata melaksanakan ritual tapi sesungguhnya membangun nilai shalat dalam perilaku keseharian.

Menjalankan ibadah haji atau umrah adalah membangun kemabruran sosial setelah ritual haji atau umrahnya. Yang perlu disampaikan, bahwa keberangkatan ke Tanah Suci adalah ibadah yang nantinya memacu setiap orang yang melaksanakannya untuk mencapai derajat Mabrur. Yaitu, menjadi insan yang lebih baik dari yang sebelumnya, yang senantiasa mau berubah dan menjadi lebih baik, yang senantiasa membangun kepedulian sosial dan mengaktualkan ibadahnya menjadi amal sholeh untuk dirinya, keluarganya, lingkungannya, bangsanya, serta agamanya.

Mungkin kita bisa melihat gambaran orang yang Mabrur dalam kehidupannya, untuk bisa sedikitnya memahami arti kemabruran sosial. Siapa yang tidak kenal pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Atau, pendiri Nahdhotul Ulama, KH Hasyim Asy’ari. Beliau berdua sepulang dari Mekah membangun “sesuatu” untuk bangsanya, lingkungannya, dan daerahnya. Saat ini kita melihat apa yang mereka bangun sudah menjadi hal yang berarti buat bangsa ini, dan Insya Allah apa yang mereka berdua dirikan akan menjadi sumber pahala yang tiada berhenti buat mereka sampai di akhirat nanti.

Itulah arti Kemabruran dalam wujud keshalehan sosial. Mabrur bukan sebagai gelar seseorang  atau status sosial, namun lebih pada sebuah derajat atau tingkatan yang sesungguhnya, dimana manusia menjadikan dirinya lebih baik dari kehidupan sebelumnya, lebih baik akhlaqnya, dan lebih elok perilakunya. Hal itu kelak menjadikan dirinya mulia di hadapan Allah SWT.

 

 

Fadly Mudaz Zen
Founder&Facilitator
INSPIRING JOURNEY
Consulting&Empowerment
Mobile: +62 81219898875
Email  : [email protected]

 

 

 

 

 

About admin

Check Also

Ketika Warga Saudi Semangati Diri

Kota Riyadh, Arab Saudi, dengan menara ikonik Kingdom Tower. BADAI Cobaan ini pasti akan berlalu. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *