Myntra coupons

Flipkart coupon

abof coupons

globalnin

Home / HALAL TRIP / Taliban Kini Konsen Lindungi Situs Buddha Bamiyan

Taliban Kini Konsen Lindungi Situs Buddha Bamiyan

Seorang tentara Taliban tampak berjaga di salah satu titik situs Buddha Bamiyan di Provinsi Bamiyan, Afghanistan. (FOTO: WAKIL KOHSAR / AFP)

 

Tentara Taliban kini silih berganti menjaga situs Buddha Bamiyan yang terletak di jantung pegunungan Hindu Kush, Provinsi Bamiyan, Afghanistan. Ini berbeda 180 derajat dengan situasi dua dasawarsa silam, kala itu Taliban sempat merusak dua patung Buddha raksasa di salah satu rongga batu situs warisan Unesco tersebut.

Tentara bersenjata lengkap Taliban berjaga-jaga di depan rongga batu menganga yang pernah menampung dua patung kuno Buddha – dulu tepatnya tahun 2001 pernah didinamit oleh pejuang Taliban saat terakhir mereka berkuasa.

Di bawah rezim baru Afghanistan, monumen bersejarah di Provinsi Bamiyan yang sudah berdiri selama 1.500 tahun itu akan konsen untuk dilindungi.

Menilik peristiwa 20 tahun silam, ratusan pejuang Taliban setidaknya menghabiskan lebih dari tiga minggu untuk menghancurkan patung-patung menjulang yang diukir di sisi tebing. Peristiwa ini memicu kecaman global.

“Patung Buddha dihancurkan oleh otoritas Taliban pada 2001,” bunyi plakat perunggu yang dipasang di batu, sementara bendera putih pemimpin baru negara itu berkibar di gerbang terdekat.

Dua orang tentara muda tampak mondar-mandir hanya beberapa meter jauhnya, mengemban amanah untuk menjaga situs bersejarah itu.

Mohammad Hassan Akhund, kini Perdana Menteri baru Afghanistan, menurut sejarawan Ali A Olomi dari Penn State Abington University, adalah salah satu arsitek penghancuran situs Buddha kala itu.

Anggota muda Taliban, Saifurrahman Mohammadi, ketika ditanya apakah merupakan ide bagus untuk meledakkan patung – yang dianggap sebagai salah satu kejahatan terbesar terhadap warisan dunia – dia tidak menyembunyikan rasa malunya.

“Yah… saya tidak bisa berkomentar banyak,” kata Mohammadi, yang baru-baru ini ditunjuk sebagai pejabat urusan kebudayaan provinsi Bamiyan.

Menurut Mohammadi, kala itu dirinya masih remaja. “Tentu saja jika mereka melakukannya, Imarah Islam pasti punya alasan. Tapi yang pasti sekarang kita berkomitmen untuk melindungi warisan sejarah negara kita. Itu tanggung jawab kita,” ungkapnya seperti dikutip AFP, baru-baru ini.

Mohammadi mengatakan dia baru-baru ini berbicara dengan seorang pejabat Unesco — yang melarikan diri ke luar negeri setelah Taliban mengambilalih pemerintahan — untuk meminta kembali ke Afghanistan dan menjamin keselamatan mereka.

Pejabat lokal dan mantan karyawan Unesco yang sebelumnya berbasis di sana mengatakan, sekitar seribu artefak bernilai sejarah tinggi yang pernah disimpan di gudang terdekat dicuri atau dihancurkan setelah pengambilalihan Taliban.

“Saya mengkonfirmasi bahwa penjarahan memang terjadi, tapi itu terjadi sebelum kedatangan kami,” kata Mohammadi. Dia menyalahkan aksi pencurian saat kekosongan yang ditinggalkan oleh otoritas lama setelah mereka kabur.”Kami sedang menyelidiki dan berusaha untuk mendapatkan kembali benda-benda artefak itu,” ujarnya.

Persimpangan Peradaban

Lembah Bamiyan terletak di jantung pegunungan Hindu Kush dan menjadi titik paling barat dari penyebaran agama Buddha dari tempat kelahirannya di anak benua India.

Pengaruh Persia, Turki, Cina, dan Yunani juga telah bersilangan di sana selama berabad-abad dan meninggalkan lingkungan binaan yang luar biasa, yang sebagian besar masih belum dijelajahi.

Patung-patung itu selamat dari serangan abad ke-17 oleh kaisar Mughal Aurangzeb, dan kemudian patung raja Persia Nader Shah, yang merusaknya dengan tembakan meriam. Jejak mereka tetap tergeletak di sekitar situs Bamiyan di bawah tenda kanvas, terkoyak oleh angin lembah.

Para ahli warisan situs dunia sangat meragukan bahwa mereka akan pernah dibangun kembali. Tetapi rezim baru Taliban bersikeras bahwa mereka ingin melindungi warisan arkeologi negara itu, meskipun ada opini  global yang dipicu oleh penyebaran foto-foto Buddha yang “blurr” disapu awan berdebu.

Di masa awal pemerintahan baru Afghanistan sekarang, pun dalam kondisi perekonomian negara yang belum stabil, para pihak menyadari bahwa pekerjaan untuk melindungi warisan memberikan pendapatan rutin. Ini pendapat Philippe Marquis, direktur delegasi arkeologi Prancis di Afghanistan.

Para pekerja di Bamiyan sedang memberikan sentuhan akhir pada pusat budaya dan museum sebagai bagian dari proyek yang didukung Unesco senilai US$ 20 juta, yang akan diresmikan dengan upacara meriah pada Oktober 2021 ini.

“Sekarang kita perlu melihat bagaimana proyek ini akan berhasil. Pemerintahan saat ini ingin kita kembali bekerja sama. Tampaknya situasi cukup aman,” ujar Philippe Delanghe, kepala program budaya berbasis di Prancis dalam satu wawancara di kantor Kabul Unesco. (wyn)

 

About admin

Check Also

Wisata Pilihan Saat Pandemi, Jalan-Jalan ke Perbukitan dan Taman Bunga

  Taman Kastil Trauttmansdorff di Meran, Italia, terkenal di seluruh dunia, menarik 400.000 pengunjung dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *